Senin, 20 Mei 2013

 Pendekatan Psikologi

Pendekatan Psikologis pada karya sastra labih banyak berhubungan dengan tokoh-tokohnya. Dalam pendekatan ini membicarakan bagaimana tokoh tersebut, apakah benar secara psikologis. …baik sastra maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia… (Wiyatmi, 2006: 106). Pada karya sastra tokoh yang dibicarakan adalah tokoh imajiner tetapi pada dunia nyata adalah tokoh secara nyata (manusia), yang keduanya mempunyai kemiripan sifat.

Pendekatan Psikologis Sastra dalam kumpulan cerpen ini terdapat pada tokoh-tokoh yang ada pada cerpen-cerpen di dalamnya. Tokoh-tokoh pada cerpen ini mempunyai kecenderungan yang hampir sama. Secara psikologis tokoh-tokoh pada cerpen-cerpen ini mempunyai kebenaran secara psikologis. Dalam pendekatan ini juga dipertanyakan apakah cerita pada tokoh itu masuk akal apa tidak serta keartistikan dalam karya tersebut. Tokoh dalam cerita ini berupa tokoh imaji yang mempunyai kemiripan dengan tokoh nyata pada kehidupan sehari-hari. Hal ini didukung oleh watak tokoh-tokohnya serta tingkah laku yang ada di dalam cerita jika dihubungkan dengan dunia yang nyata. Pada cerita-cerita ini tokoh yang berperan di dalamnya tidak didramatisir oleh penulis. Ini benar secara psikologi, karena tokoh-tokoh tersebut tidak berlebihan. Tokoh-tokoh tersebut yang dilihat dari segi psikologis ini menambah kompleksitas pada cerita dengan berbagai macam karakter dan apa yang terjadi di sana. Rectoverso ini mengandung beberapa fenomena yang berkaitan dengan kejiwaan yang tampak dalam perilaku tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh pada Rectoverso ini lebih banyak mengalami konflik batin. Secara psikologis tokoh-tokoh tersebut mengalami gangguan pada jiwanya berupa tekanan ataupun hal-hal yang ada pada perasaannya karena konflik dengan batinnya, antara lain kekhawatiran, kasih tak sampai, berharap-harap cemas, dan juga bagaimana kerinduan itu.

Secara psikologis tokoh-tokohnya berlaku wajar seperti halnya pada kehidupan. Terlihat pada cerpen yang berjudul Malaikat juga Tahu yang menceritakan seorang autis yang biasa disebut Abang juga bisa menyukai salah satu perempuan yang tinggal di kos-kosan di rumahnya. Mereka bersahabat dan sering menghabiskan waktu bersama ketika malam minggu. Abang sering melakukan kelakuan anehnya (bagi orang sekitarnya) dan itu merupakan kebiasaanya seperti mengumpulkan sabun dan membangunkan orang-orang di pagi hari dengan menggedor-gedor, melolong suaranya, dan juga beberapa tingkah anehnya. Ia juga marah jika ada yang mengganggunya. Secara diam-diam ia menyukai perempuan itu yang teryata ia adalah kekasih adiknya yang ada di luar negeri. Mereka selalu ngobrol yang bagi orang lain aneh dengan persahabatan mereka. Hal tersebut akan menyakitkannya. Ketika ia tahu hal tersebut (si perempuan tidak menemaninya ketika malam minggu karena memilih pergi dengan adikya) si Abang sukanya mengamuk dan Bunda lah  bisa menaganinya.

Pada tokoh Abang terjadi kewajaran sikap secara psikologis karena seorang yang autis juga mempunyai tingkah yang sedemikian juga. Ia juga bisa jatuh cinta selayaknya orang-orang normal. Ini adalah kebenaran secara psikologis watak seseorang dan kekopleksitasan cerita dengan menghadirkan tokoh-tokoh tersebut. Tokoh ini digambarkan apa adanya. Seorang yang gangguan jiwa memang bisa melakukan tindakan nekat tidak sepertri orang normal. Seperti ketika Abang diganggu dengan diambil sabunya ia pergi dan mengamuk pada toko yang menjual sabun yang sama. Terdapat pada  halaman 19.

Pada tokoh Bunda, ia adalah sosok ibu yang sabar menghadapi cobaan hidupnya. Anaknya ada yang meninggal ketika masih kecil, ada yang autis (abang),dan anak bungsunya yang mencintai orang yang dicintai Abang hingga membuat Abang tergoncang lagi. Pada kenyataan kehidupan masih ada seorang ibu yang tetap mencintai anak-anaknya dalam keadaan apapun seperti pada tokoh Bunda. Secara Psikologis ini wajar. Terlihat pada kutipan cerita berikut ini.

“Bunda menangisi setiap malam Minggu tiba. Tidak pakai air mata karena ia tidak punya cukup waktu. Ia menanggis cukup dalam hati.” (Lestari, 2008: 20)


“Pada setiap penghujung malam Minggu, Bunda bersandar kelelahan dengan bulir-bulir besar peluh membasahi wajah, anaknya yang berbadan dua kali lebih besar tertidur memeluk kakinya erat-erat…” (Lestari, 2008: 20)

Pada tokoh perempuan kebenaran secara psikologis terlihat jika ia lebih memilih tokoh adik Abang karena ia memilih orang yang normal dalam hidupnya. Dalam hal ini pada kenyataan yang terjadi juga seperti itu. Perempuan itu memilih orang yang bisa memberikan kebahagiaan lahir dan batin baginya. Tidak ada pendramatisiran perilaku tokoh disini. Terlihat pada kutipan berikut.

“Selepas berbicara dengan Bunda, mereka berbicara berdua. Mereka sepakat untuk selama-lamanya pergi dari kehidupan rumah itu. Tidak mungkin mereka terpenjara setiap minggu di sana.” (Lestari, 2008:  20)

Pada tokoh adik abang kebenaran secara psikologis terlihat ketika mempertahankan orang yang ia cintai. Inilah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan. Ia tidak rela jika harus melepasnya meskipun untuk kakaknya sendiri. Terlihat pada kutipan berikut.

“Dia akan segera tahu kalian berpacaran.”

“Mami lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti setelah kami menikah”

“Kami tidak mungkin sembunyi-sembunyi seumur hidup!” Anak laki-lakinya setengah berseru. (Lestari, 2008: 19)

            Selain pada cerita Malaikat juga Tahu tokoh-tokoh yang ada pada cerita lainnya juga demikian. Pada Pada cerita yang berjudul Firasat, tokoh aku yang jatuh hati dengan pemimpin perkumpulannya bisa melakukan sesuatu yang berlebih untuik menarik perhatian. Pada cerita ini ia membuat roti ketika perayaan satu tahun ia bergabung dengan klub tersebut serta membawakan roti untuk pemimpin klub itu. Terdapat pada halaman 95. Hal ini biasa terjadi dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan indera keenam atau firasat-firasat yang ada pada seseorang. Secara psikologis ini ada dan terjadi pada seseorang hingga ia mempunyai kekhawatiran yang besar hingga membuatnya ketakutan. Pada tokoh aku memgalami kejadian ini. Pada cerita ini ia khawatir dengan firasat yang akan terjadi pada pemimpin klut itu hal ini dikarenakan ia memiliki rasa dengannya.

            Pembaca dapat menyelami kisah-kisah pada kumpulan cerpen ini dengan merasakan apa yang terjadi pada tokoh-tokoh tersebut. Pembaca mendapatkan pengalaman-pengalaman kehidupan.

            Kumpulan cerpen yang berjudul Rectoverso ini mempunyai kemutakhiran baik berupa cerita, cara penceritaan, tema-tema, dan juga tokoh-tokohnya yang dilihat dari pendekatan Psikologi Sastra masuk akal tanpa adanya sesuatu yang dibuat berlebihan sehingga dapat dikatakan bahwa watak tokoh-tokoh tersebut secara memiliki kebenaran psikologis. Hal ini terdapat pada semua cerita-cerita yang ada pada Rectoverso.

0 komentar:

Poskan Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "